Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Malam tepat sepeninggalmu

  Hari ini masih sama dengan hari-hari sebelumnya, tepatnya sepeninggalmu. Disela-sela waktu aku masih duduk termenung dan memikirkan segala perihal kisah yang pernah kita rangkai dengan indah, lalu aku kembali dibuat tersadar dan bertanya-tanya tentang kesalahan apa yang telah kuperbuat hingga dengan tega kau matikan segala perasaanmu. Tuan, ada suatu keadaan yang penuh dengan kegelapan, angin berhembus, seberkas cahaya menghampiri serta gema suara yang begitu lembut namun kalimat lembut yang mengalir itu justru sangat menyakitkan ketika merasuk kedalam kedua belai telingaku. taukah engkau tuan? Ia adalah malam penuh bintang dengan gema angin dan deraian hujan, malam dimana aku menumpahkan air mataku begitu deras saat kau berucap tak ingin lagi menjadi rumah bagiku. Malam ini aku kembali menengadah terhadap langit. gelap, seberkas cahaya, pun gema lembut kembali dalam kehidupanku yang terjadi ialah aku tiba-tiba teringat padamu kembali kenangan lama yang bersih keras ingin kup...

Kalau saja aku tau, aku tetap mencintai-mu.

  Aku masih tetap sama, tidak berbeda tepatnya masih mencintaimu. Senangkah mendengarnya? puaskah? Apakah kini kau sedang tersenyum, tersenyum karena kau masih memenangkan hatiku bahkan setelah kau porak-porandakkan ruang tempat namamu terukir. Mencintai memang tidak pernah sederhana. Hmm maaf, maksudku mencintaimu yang Rumit itu, sebab aku tidak tahu cara menyudahinya. Sebab sambian lainku ialah merindukanmu, faktanya ternyata menaburi rindu padamu masih berada dibarisan paling depan namun juga berjuta kali kuhalangi untuk melangkah jauh sebab aku cukup tau diri tak pantas, siapa pula aku? Hanyalah sebuah penolakan yang berada tepat disudut paling kiri dari ingatanmu. Aku masih ingat terakhir kali betapa lancangnya aku menyuaraimu penuh debar lalu berbisik ditelinga sebelah kirimu “aku mencintaimu.” dengan lantang tanpa beban. “Kalau saja aku tau pergimu akan melukaiku sehebat yang sekarang, kalau saja aku tau bernafas tanpamu membuatku sesak setiap saat, kalau saja a...

“NYAMAN, BENARKAH?

  Kalau kata kang Wira, “Sebelum hadir kata kenyamanan, pastikan itu cinta, bukan Cuma penasaran belaka.”   Benarkah bahwa aku kini telah menjatuhkan nyamanku yang baru? Benarkah bahwa dia kini telah menjadi pulangku yang baru? Benarkah bahwa dia yang mampu mengusir gundaku? Benarkah bahwa dia kini resmi menjadi tokoh dari tulisan-tulisanku yang baru? Benarkah? Benarkah? Benarkah bahwa aku telah menjatuh-cintainya atau ini hanya rasa penasaran belaka?        Benar tuan, semua ini berawal dari diskusi-diskusi kecil kita, candamu yang kadang sedikit konyol namun mampu membuatku tersenyum sepanjang hari, keluhmu tiap hari namun mampu membuatku merasa aku seperti rumah bagimu. Aku tahu benar, jatuh cinta bukanlah hal biasa lagi bagiku.. namun setelah patah hatiku kemarin rasanya aku seperti mati rasa, berani sekali ku tolak laki-laki yang mencoba mendekatiku dan menjadikanku rumah tempatnya pulang sedikitpun tak ada gubrisku kepada merek...

Tentangmu masih saja pahit

            Kini telah berlalu puluhan purnama sejak kau memutuskan pergi tanpa berucap pamit padaku pun tak terhitung guguran dedaunan dan rintik hujan yang menemani hari-hari pahitku tanpamu. Namun setelah kepergianmu tuan, aku masih belum paham akan rasa yang masih menikam jantungku setiap harinya yang membuatku terus berlari menjauhi segala bayang-akanmu. Adalah kau lelaki, awal dari semua cerita pahitku yang tak kutahu kapan akhirnya.       Tuan setelah hari-hari panjang yang kulewati tanpamu masih saja aku merindumu tanpa jeda, bibirku mungkin berucap membencimu teramat, namun percayalah dari lubuk yang paling dalam aku masih menunggumu di penghujung, masih saja aku menjaga ruang yang kau sebut milikmi dulu; ialah hatiku yang kini kau tinggal.         Bahwa benar mencintaimu bukan hanya sekedar lamunan yang telah menjadi kebiasaanku setahun terakhir jika rembulan telah menjemput sang malam. Saat ka...

Aku; Kacau.

Pertengahan bulan Juli, hari ini hujan turun deras di perantauanku bersamaan dengan tetesan air mata yang kini murni berderai membasahi pipiku. Suasana hatiku kacau, benar-benar sedang kacau. Hari ini aku teramat marah pada dia dan hari ini aku teramat sedih pada kepergian tanpa pertemuan. Untuk kemarahanku yang begitu membungkam seribu tanya perihal, “Mengapa orang-orang sangat menggampangkan sesuatu? Apakah segala sesuatu bisa di beli dengan uang? dan tanpa memikirkan perasaan atau bahkan luka yang diterima si pemilik? Apakah tidak ada rasa bersalah setelah orang-orang merenggut sesuatu itu dengan pembenaran orang-orang mengganti dengan yang lebih baru dan elok?" Memikirkan tanya itu, hatiku benar tertusuk menyaksikan beberapa dari mereka sangat memaklumi hal tersebut. Seolah-olah rasa iba dalam dirinya memang benar-benar tidak ada. Alih-alih berucap dia mengganti sesuatu dengan yang baru tanpa memikirkan perasaan si pemilik mendengar ucapnya. “Hei pemuda, kau p...

Aku pernah mencintai, sangat mencintai.

Aku pernah mencintai, sangat mencintai .. Hampir setiap hari aku habiskan mengukir tentangnya, senyumnya, tawanya, atau bahkan berbagai cara kerap kali ia menyuaraiku suaranya yang indah bahkan lebih indah saat kita memutuskan untuk jalan bersama. Mengenang kembali pertemuan yang lalu-lalu, alih-alih bersua demi menuntaskan sebuah rasa rindu yang ada kerinduan padanya malah makin menjadi-jadi. Aku pernah mencintai, begitu mencintai .. Aku masih ingat kali pertama berjumpa dengannya, serasa waktu berhenti tepat ketika ia membentangkan senyum di kedua belah bibirnya padaku membuatku sulit bernafas dan sedikit cemas kalau-kalau ia mendengar desahan nafasku juga dekupan jantungku yang tak seperti biasanya. Aku mengingat hari-hari yang aku lalui bersamanya hari dimana aku memutuskan mencintainya sampai hatiku terasa begitu sakit. Aku pernah mencintai, teramat mencintai .. Hingga rasa cinta utuh yang ku miliki telah berani menikamku, hingga percayaku akan cinta untuk keberk...

Ku-Mu.

Pagi, siang, sore, malam, matahari terbit dan terbenam, bintang gemintang, rembulan semuanya amat menyenangkan sama seperti kali pertama dua insan saling menatap penuh harap namun sedikit tersipu malu, tepat saat belum ada sekat antara aku dan kau. Senja yang menenangkan saat ucapan sayang masih selalu kau ucap padaku, saat kecupan manis dari bibirmu untuk keningku dan pelukan hangat yang membuatku tenang karena ada kau di sisiku. Bagaimana kita saling menggenggam, kupeluk kau erat saat laju motormu membuatku takut kemudian kau eratkan pelukkanku ketika aku hendak tertidur di atas motor. Bahwa benar aku merindukanmu dan kenangan kita . Aku tidak pernah berpikir arti perpisahan bisa se-menyakitkan yang kini tengah kualami. Tak henti-hentinya aku mengaksarakan lukaku mungkin membuatmu bosan jika membaca tiap kalimatnya atau bahkan menyumpah-nyumpahiku tapi bukankah ini yang dilakukan seorang penyair mengukir tiap lukanya dalam sebuah aksara? Tuan yang kini menjadi toko utama dalam ...

Kau Raib dan Aku Nelangsa

Ai terkasih .. Seseorang yang sedang mengukirmu lewat kata-ke-kata ini tengah dirundung nelangsa. Ialah aku perempuan yang telah kau porak-porandakan lalu kau koyak habis tempat yang mulanya kau sebut rumahmu; jiwaku. Ia kini telah hancur berserakan, puing-puingnya tak mampu lagi aku satukan, kini aku berteman sepi tapi masih sanggup mengucap namamu walau suaraku parau. Ai terkasih, kumohon jangan membuatku menjadi nelangsa, sungguh aku tak cukup kuat menanggung segenap beban kala aku merindumu, sungguh aku tak sanggup ketika kau selalu menjadi bunga tidurku tiap malam. Ingatkah saat kau paksa aku untuk melepasmu? Diammu, bisumu kau jadikan simbol bahwa kau segera ingin kulupakan, kau paksa aku berhenti saat aku sedang sayang-sayangnya. Sungguh kejam. Kau tidak tahu betapa aku berjuang keras untuk kita lalu kau buatku kembali berjuang keras untuk melupa akanmu dan kenangan kita . Ya, maksudku untuk aku dan kau. Karena kini tak ada lagi alasan untuk kita diantara...

POEM #1

Tentang (ku-mu) Adalah aku,   puan yang tengah bersimpu lantas menengadah terhadap langit puan yang mendoakan dengan tulus kebahagiaanmu. Adalah aku,   yang kini kian hanyut dalam rangkaian asa tak berkesudahan. namun masih bersedia merangkul segala keluhmu meminjamkan pundak di kala kau sedang lelap Adalah aku, yang tak pernah beranjak pergi dari hangatnya dekapan serta genggaman tanganmu puan yang mencintaimu sungguh, menjadikanmu candu. Adalah kau terang dalam gelapku pula tawa dalam tangisku, segalaku. Adalah kau puisi yang selalu aku ukir, dan adalah aku puisi yang tak pernah kau baca.

Dia adalah Matahariku yang dulu

Bahwa benar; Perihal Mencintai tak pernah ada yang sederhana, Sama halnya mencintaimu, tak sesederhana ucap. -Mutiahptr- “Apa kabarmu tuan? Agaknya lebih elok memanggilmu dengan sebutan Matahariku saja, bagaimana menurutmu? Kau menyukainya? Iya, kau masih matahariku kala itu.” Rasanya aku ingin mengenang kembali kisah sebelumnya, sebelum akhirnya kukabarkan bahwa kita akan sampai dipenghujung namun kau kini raib, kau memilih berhenti dan begitu, kita usai disini. Ingatkah tentang Matahari? Ia dia adalah matahariku, matahari dengan sinarnya yang telah merubah segala bentukan prinsip dan meluluh-lantahkan benteng yang aku bangun bertahun-tahun. Dia   matahariku yang membuatku telah berani menjatuhkan rasa kembali setelah asaku di masa lalu yang cukup pahit. Dia yang diam-diam kurindukan namun amat dalam tanpa berani berucap, dia yang pada suatu malam panjang hanya berani kupandang dengan rasa terkagum, dan dia hanya dia toko utama yang sejatinya pemilik d...

Kenapa Saya Menulis? Ini tentang Buku dan Nostalgia.

Salah satu harta yang paling berharga yang seseorang miliki adalah Tulisan, dalam hidup seseorang tidak akan abadi tapi tulisan akan selalu abadi tidak di makan waktu tepatnya. -Mutiahptr- Malam yang indah, saya tengah menengadah terhadap langit dengan gerimis manjanya yang perlahan turun ke bumi seolah sedang mengadu bahwa hari ini dia tengah terharu atau bersedih saya tidak tahu pastinya.   Kini saya tengah duduk di kursi tepat di dapur rumah saya, loh kenapa dapur? Nggak tahu juga hehe, aneh ya? Iya, saya memang lebih menyukai nongkrong di dapur dalam berbagai hal membaca buku, menulis, kuliah daring, dan memasak pastinya, mungkin karena lampunya yang lebih terang ataukah memang suasananya yang nyaman menurut saya. Kali ini saya pastikan begadang lagi bukan karena meneguk segelas kopi, oh tidak. Kali ini saya terpaksa begadang karena dua jam lalu saya telah tertidur lelap lebih awal dan akhirnya terbangun dan yaa gitu saya tidak bisa tidur lagi, sudah saya coba ...