Dia adalah Matahariku yang dulu



Bahwa benar; Perihal Mencintai tak pernah ada yang sederhana,

Sama halnya mencintaimu, tak sesederhana ucap.
-Mutiahptr-



“Apa kabarmu tuan? Agaknya lebih elok memanggilmu dengan sebutan Matahariku saja, bagaimana menurutmu? Kau menyukainya? Iya, kau masih matahariku kala itu.”

Rasanya aku ingin mengenang kembali kisah sebelumnya, sebelum akhirnya kukabarkan bahwa kita akan sampai dipenghujung namun kau kini raib, kau memilih berhenti dan begitu, kita usai disini.

Ingatkah tentang Matahari? Ia dia adalah matahariku, matahari dengan sinarnya yang telah merubah segala bentukan prinsip dan meluluh-lantahkan benteng yang aku bangun bertahun-tahun. Dia  matahariku yang membuatku telah berani menjatuhkan rasa kembali setelah asaku di masa lalu yang cukup pahit. Dia yang diam-diam kurindukan namun amat dalam tanpa berani berucap, dia yang pada suatu malam panjang hanya berani kupandang dengan rasa terkagum, dan dia hanya dia toko utama yang sejatinya pemilik dari tulisan-tulisanku.

Matahari yang padanya kugantungkan segenap pengharapan, mimpi-mimpi masa depan bersama, yang dengan mudah kuucapkan bahwa aku telah mencintainya bahkan sebelum kita memutuskan untuk bersama. Namun dia juga lah yang telah membuatku tidak percaya lagi pada percayaku sendiri.
AH, haruskah aku kembali mengenang ataukah cukup? Kali ini saja kubiarkan dia kembali kuungkit dengan manis walau hanya sebatas bayang-bayang semu.

Kala itu, di bulan Juli kuputuskan untuk mengikuti suatu kegiatan dengan alasan yang tersimpulkan di pikirku hanya ingin merealisasikan salah satu dari tugasku sebagai seorang Mahasiswa yap, memenuhi Tridharma Perguruan tinggi, tapi tidak. Aku tidak bisa membohongi diriku alasan utamanya tidak lain aku ingin menyibukkan diri perihal kisahku di masa lalu yang cukup pahit, aku ingin melupakannya.

Tidak, disini aku tidak akan membahas yang lalu-lalu, tepatnya lalu-lalu sebelum dia matahariku.
Bukankah matahariku juga lalu?

Ah, tak bisa kupingkiri, kisahku dengannya dan dengan matahariku juga sudah berlalu.
Tapi-tapi, dengan segenap kemampuanku mari kulanjutkan kembali.

Mari kusederhanakan, itulah awal pertemuanku dengannya. Mulanya aku tidak mengenalnya, tidak saling menyapa, namun dia menyapaku dalam diam. Aku tidak tahu menahu tentangnya bahkan tidak tahu menahu bahwa dia adalah ketua kegiatan kala itu. Aku bisa dibilang sedikit cuek dan tidak peduli akan sesuatu yang menurutku tidak harus aku tahu. Tapi dia tau tentangku, kalau katanya dulu,

 “hei, aku tau kamu, yang menatapku dengan tatapan sinis, sampai aku bertanya apa salahku? Ini perempuan matanya sinis amat.” Aku tertawa mendengar pembenarannya.

Kemudian di hari berikutnya telepon genggamku berdering tanda notifikasi masuk, seseorang telah berniat mengikuti salah satu akun sosial mediaku. Aku buka dan itu dia, aku hanya mengetahuinya sebatas seseorang yang berada dalam ruang lingkup yang sama denganku.

Lalu, kau tahu di malam berikutnya kita kembali berjumpa, kali pertama dia berani menyuaraiku dan kali pertama aku menatapnya dengan rasa terkagum. Sedikit info aku ini sangat kagum ketika melihat seseorang sedang membaca sebuah buku, iya dia dan bukunya 3 Peyempuan.

Aku tidak akan membahas semuanya disini, aku hanya akan mengenang beberapa saja. Kau pikir itu mudah? Aku menulisnya saja masih perih seriusnya aku masih tertikam. Kembali.

Singkatnya, ingatkah tentang Lollipop? Yang menjadi media pertemuan kita, yang menjadi media kedekatan kita. Semuanya selalu tentangmu, buku dan lollipop. Kala itu aku masih canggung menyuaraimu, kita hanya sebatas senyum, tanpa berani bersuara namun dalam diam saling memandang. Berani sekali ku ibaratkan bahwa kau adalah lembayung dengan khasmu dan warnamu yang mampu membuat orang disekitarmu merasa nyaman. Dan jujur adalah aku yang kini menjatuhkan nyamannya padamu, adalah aku salah satunya.

Maukah kuberitahu sedikit rahasia? Adalah aku yang lebih dulu menjatuh-cintainya sebelum dia.
Ingatkah tentang mimpi-mimpi? Tentang Seven Summit, rumah untuk kucing, tentang kita yang kelak menjadi manifestasi dari cinta Bapak Habibie dan Ibu Ainun. Aku dibahagiakan akan harap semua itu, aku masih belum percaya bahwa semuanya hanya kefanaan yang aku ciptakan dan pada akhirnya menikam ku perlahan.

Mengenai dia matahariku yang dulu, seseorang yang aku tahu keras kepala, tidak ingin dilawan, idealis, tapi juga sangat peduli dia yang lebih mementingkan orang lain dibanding dirinya sendiri. Kadang aku sedikit kesal dibuatnya bagaimana tidak aku yang terus mengkhawatirkannya tapi dia sendiri tidak mengkhawatirkan dirinya
.
Hanya itu, jari jemariku hanya mampu menulis sampai disini, akan kusudahi khayalku yang hanya mampu mengukir sampai disini, karena pada akhirnya dia matahariku yang dulu telah Raib, bukan lagi jadi milikku. Adalah aku yang bukan lagi bulannya, adalah dia yang telah menjatuh-cintai bulan lain padahal aku tahu hanya ada satu bulan, rupanya ekspektasiku selalu mahir membohongiku.. tapi kebenarannya,

Aku telah mencintainya, Ah sial. Benar; perihal mencintai tak pernah sesederhana ucap.
                                                                       

-Mutiahptr-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku, kepada diriku.

Kau Raib dan Aku Nelangsa

Mula