Aku; Kacau.
Pertengahan bulan Juli, hari ini hujan turun deras di perantauanku bersamaan dengan tetesan air mata yang kini murni berderai membasahi pipiku. Suasana hatiku kacau, benar-benar sedang kacau. Hari ini aku teramat marah pada dia dan hari ini aku teramat sedih pada kepergian tanpa pertemuan. Untuk kemarahanku yang begitu membungkam seribu tanya perihal, “Mengapa orang-orang sangat menggampangkan sesuatu? Apakah segala sesuatu bisa di beli dengan uang? dan tanpa memikirkan perasaan atau bahkan luka yang diterima si pemilik? Apakah tidak ada rasa bersalah setelah orang-orang merenggut sesuatu itu dengan pembenaran orang-orang mengganti dengan yang lebih baru dan elok?" Memikirkan tanya itu, hatiku benar tertusuk menyaksikan beberapa dari mereka sangat memaklumi hal tersebut. Seolah-olah rasa iba dalam dirinya memang benar-benar tidak ada. Alih-alih berucap dia mengganti sesuatu dengan yang baru tanpa memikirkan perasaan si pemilik mendengar ucapnya. “Hei pemuda, kau p...