Aku pernah mencintai, sangat mencintai.


Aku pernah mencintai, sangat mencintai ..
Hampir setiap hari aku habiskan mengukir tentangnya, senyumnya, tawanya, atau bahkan berbagai cara kerap kali ia menyuaraiku suaranya yang indah bahkan lebih indah saat kita memutuskan untuk jalan bersama. Mengenang kembali pertemuan yang lalu-lalu, alih-alih bersua demi menuntaskan sebuah rasa rindu yang ada kerinduan padanya malah makin menjadi-jadi.

Aku pernah mencintai, begitu mencintai ..
Aku masih ingat kali pertama berjumpa dengannya, serasa waktu berhenti tepat ketika ia membentangkan senyum di kedua belah bibirnya padaku membuatku sulit bernafas dan sedikit cemas kalau-kalau ia mendengar desahan nafasku juga dekupan jantungku yang tak seperti biasanya. Aku mengingat hari-hari yang aku lalui bersamanya hari dimana aku memutuskan mencintainya sampai hatiku terasa begitu sakit.

Aku pernah mencintai, teramat mencintai ..
Hingga rasa cinta utuh yang ku miliki telah berani menikamku, hingga percayaku akan cinta untuk keberkian kalinya memudar. Hingga aku tersadar bahwa aku tidak bisa sepenuhnya memiliki yang bahkan diriku sendiri sejatinya bukanlah milikku.

Aku pernah mencintai, terlampau mencintai ..
Hingga ketika ia pergi tanpa berucap pamit atau bahkan ucapan maaf membuatku teramat tersakiti, aku berhasil ditikam kembali oleh pengharapan yang aku ciptakan, mengetahui aku bukanlah satu-satunya nyamannya, aku bukanlah satu-satunya pulangnya. Aku, aku, aku amat terluka.

Aku pernah mencintai, sangat-sangat mencintai-mu ..
Hingga ketika engkau melepasku, aku putuskan untuk tidak lagi menyulam kasih pada yang lain.


/Mutiahptr/

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku, kepada diriku.

Kau Raib dan Aku Nelangsa

Mula