Postingan

Aku, kepada diriku.

Sebuah cerita, sebuah cinta dan sebuah asa meruak ke dalam jemari mengaliri setiap darah dalam tubuhmu, mengoyakmu perlahan. Dia menyelinap ke dalam ruang yang paling sakral dalam tubuhmu, ruang yang belum pernah dijalari oleh apapun namun, dia, berhasil. Kau mulai kelelahan, kau jatuh didalamnya. Dia berhasil menembus dinding itu, menembus segala pondasi yang kau bangun. Rupanya kau mulai, mencintainya. Saat dia meruak menembus pondasi yang kau sebut, jiwa. Kemana perginya kepercayaan dirimu? Saat kau memutuskan untuk menutup pondasi itu, kemana perginya kekuatanmu? Saat kau berjuang untuk tidak lagi roboh. -puan renjana-

Mula

       Mengenalmu adalah definisi bahagia paling nyata yang dengan lancangnya berkelana di jiwaku, aku bersyukur karena kau memilihku dalam setiap tegurmu. Menikmati tiap senyum dari lengkungan bibirmu, manis. Hingga tak henti-hentinya aku mengaksarakan tiap kali pertemuan itu beradu dan menunggu-nunggu tiap kali jeda telah memaksa kita untuk bersabar. Belum lama setelah matamu melirikku lantas tersipu malu, lancang sekali aku menduga bahwa kau telah jatuh cinta padaku. Maaf aku banyak berharap.      Namun menyenangkan, setelah berpandang itu kau langsung menyergapku dengan pelukan, menyatakannya dengan lancang.   “Hei, aku menyukaimu. Sungguh.”      Mengenang kembali kita bermula dari chat basa-basi, tempat memuntahkan segala pahit getir kehidupan hingga kaulah yang kabarnya paling aku nanti-nanti. Seperti penyihir kau mengetahui isi dari dugaanku. Tidak berlangsung lama aku mengiyakan keterikatan kita. Jadilah aku ...

Sebuah akhir.

  Akhirnya tidak ada lagi yang perlu dikenang antar kita, tidak perlu lagi ada alasan klasik yang memenangi pembenaran, akhirnya jarak bukan lagi penghalang untuk kita me-mediakan rasa rindu karena memang kita sudah tidak saling memiliki, akhirnya kita telah sepakat sepenuhnya berpisah walau itu kau dulu yang menyepakati seorang diri; sesuai inginmu aku iya-kan saja semuanya. Adalah yang kuharap kemarin kita akan sama-sama berjalan searah walau tak saling bergandengan tapi kelak bertemu dititik paling ujung namun tidak lagi sayang, aku memahaminya sekarang kita kini sudah berlalu. Menunggumu diujung memang begitu melelahkan. Kini kita bebas untuk tidak lagi saling mengekang dan menabur curiga satu sama lain, tidak ada lagi pelukan hangat pun kecupan manis, kita resmi mengepak sayap lalu terbang seorang diri. Dulu kupikir mencintaimu memang tidak pernah sederhana namun melepaskamu jauh lebih rumit dari yang kuduga, melelahkan bukan mencintai dan melepaskanmu diwaktu yang bersama...

Aku tahu, kamu tahu segalanya.

  “Aku tahu betul kamu pasti tahu perihal aku yang tidak akan pernah siap melihat punggungmu dan pergi meninggalkanku.” “Aku tahu betul kamu pasti tahu perihal aku yang tidak akan sanggup melihatmu menetap di rumah lain, selain-ku.” “Aku tahu betul kamu pasti tahu aku akan sulit beradaptasi dengan orang baru setelah pergimu.” Aku tahu kamu mengetahui segalanya, tapi, kamu tetap pada pendirianmu yakni meninggalkanku. Mengetahui, bagaimana kamu dengan beribu alasan klasik yang mengamini keputusanmu; berpisah. Yang aku tidak habis pikir hanya pada teganya kamu dulu sekali dengan buaian manis memintaku menjadi rumah untukmu lalu kamu beranjak pergi tanpa pamit pada rumahmu. “Apa aku salah dengan ini? Tidak kan?” Kasihan sekali, aku ini. Tiap waktu tanpa alpa menunggumu disudut jendela sembari membayangkan kamu akan berbalik-pulang, menyebut namamu dalam kalbu sedang kau tengah berbahagia dengan dia-mu, memotretmu dalam pikiran sedang kau tengah memotret dia dalam hati juga ...

Malam tepat sepeninggalmu

  Hari ini masih sama dengan hari-hari sebelumnya, tepatnya sepeninggalmu. Disela-sela waktu aku masih duduk termenung dan memikirkan segala perihal kisah yang pernah kita rangkai dengan indah, lalu aku kembali dibuat tersadar dan bertanya-tanya tentang kesalahan apa yang telah kuperbuat hingga dengan tega kau matikan segala perasaanmu. Tuan, ada suatu keadaan yang penuh dengan kegelapan, angin berhembus, seberkas cahaya menghampiri serta gema suara yang begitu lembut namun kalimat lembut yang mengalir itu justru sangat menyakitkan ketika merasuk kedalam kedua belai telingaku. taukah engkau tuan? Ia adalah malam penuh bintang dengan gema angin dan deraian hujan, malam dimana aku menumpahkan air mataku begitu deras saat kau berucap tak ingin lagi menjadi rumah bagiku. Malam ini aku kembali menengadah terhadap langit. gelap, seberkas cahaya, pun gema lembut kembali dalam kehidupanku yang terjadi ialah aku tiba-tiba teringat padamu kembali kenangan lama yang bersih keras ingin kup...

Kalau saja aku tau, aku tetap mencintai-mu.

  Aku masih tetap sama, tidak berbeda tepatnya masih mencintaimu. Senangkah mendengarnya? puaskah? Apakah kini kau sedang tersenyum, tersenyum karena kau masih memenangkan hatiku bahkan setelah kau porak-porandakkan ruang tempat namamu terukir. Mencintai memang tidak pernah sederhana. Hmm maaf, maksudku mencintaimu yang Rumit itu, sebab aku tidak tahu cara menyudahinya. Sebab sambian lainku ialah merindukanmu, faktanya ternyata menaburi rindu padamu masih berada dibarisan paling depan namun juga berjuta kali kuhalangi untuk melangkah jauh sebab aku cukup tau diri tak pantas, siapa pula aku? Hanyalah sebuah penolakan yang berada tepat disudut paling kiri dari ingatanmu. Aku masih ingat terakhir kali betapa lancangnya aku menyuaraimu penuh debar lalu berbisik ditelinga sebelah kirimu “aku mencintaimu.” dengan lantang tanpa beban. “Kalau saja aku tau pergimu akan melukaiku sehebat yang sekarang, kalau saja aku tau bernafas tanpamu membuatku sesak setiap saat, kalau saja a...

“NYAMAN, BENARKAH?

  Kalau kata kang Wira, “Sebelum hadir kata kenyamanan, pastikan itu cinta, bukan Cuma penasaran belaka.”   Benarkah bahwa aku kini telah menjatuhkan nyamanku yang baru? Benarkah bahwa dia kini telah menjadi pulangku yang baru? Benarkah bahwa dia yang mampu mengusir gundaku? Benarkah bahwa dia kini resmi menjadi tokoh dari tulisan-tulisanku yang baru? Benarkah? Benarkah? Benarkah bahwa aku telah menjatuh-cintainya atau ini hanya rasa penasaran belaka?        Benar tuan, semua ini berawal dari diskusi-diskusi kecil kita, candamu yang kadang sedikit konyol namun mampu membuatku tersenyum sepanjang hari, keluhmu tiap hari namun mampu membuatku merasa aku seperti rumah bagimu. Aku tahu benar, jatuh cinta bukanlah hal biasa lagi bagiku.. namun setelah patah hatiku kemarin rasanya aku seperti mati rasa, berani sekali ku tolak laki-laki yang mencoba mendekatiku dan menjadikanku rumah tempatnya pulang sedikitpun tak ada gubrisku kepada merek...