Kalau saja aku tau, aku tetap mencintai-mu.
Aku masih tetap sama, tidak berbeda tepatnya masih mencintaimu. Senangkah mendengarnya? puaskah? Apakah kini kau sedang tersenyum, tersenyum karena kau masih memenangkan hatiku bahkan setelah kau porak-porandakkan ruang tempat namamu terukir. Mencintai memang tidak pernah sederhana. Hmm maaf, maksudku mencintaimu yang Rumit itu, sebab aku tidak tahu cara menyudahinya.
Sebab sambian lainku ialah merindukanmu, faktanya ternyata menaburi rindu padamu masih berada dibarisan paling depan namun juga berjuta kali kuhalangi untuk melangkah jauh sebab aku cukup tau diri tak pantas, siapa pula aku? Hanyalah sebuah penolakan yang berada tepat disudut paling kiri dari ingatanmu.
Aku masih ingat terakhir kali betapa lancangnya aku menyuaraimu penuh debar lalu berbisik ditelinga sebelah kirimu “aku mencintaimu.” dengan lantang tanpa beban.
“Kalau saja aku tau pergimu akan melukaiku sehebat yang sekarang,
kalau saja aku tau bernafas tanpamu membuatku sesak setiap saat,
kalau saja aku tau setelah kepergianmu mimpi indahku tentangmu akan menjadi mimpi terburuk ketika aku terbangun nanti,
kalau saja aku tau menjatuh-cintaimu adalah kesalahan paling fatal yang pernah kulakukan..
kalau saja aku tau, kalau saja aku tau.”
Berkali-kali pernyataan itu melintasi imajiku dengan tatapan kosong penuh kesal, sial aku memang mengetahuinya namun bodohnya sekalipun aku memang tidak pernah menyesali menjatuh-cintaimu, pernah menjadi milikmu, bahkan setelah hadiah yang kau berikan untukku ialah sebuah rasa sakit tidak terkira.
Bahwa faktanya lagi-lagi aku dibuat tersiksa oleh cinta, mencintaimu.
/puan\
Komentar
Posting Komentar