Kau Raib dan Aku Nelangsa
Ai
terkasih ..
Seseorang
yang sedang mengukirmu lewat kata-ke-kata ini tengah dirundung nelangsa.
Ialah
aku perempuan yang telah kau porak-porandakan lalu kau koyak habis tempat yang
mulanya kau sebut rumahmu; jiwaku. Ia kini telah hancur berserakan, puing-puingnya
tak mampu lagi aku satukan, kini aku berteman sepi tapi masih sanggup mengucap
namamu walau suaraku parau.
Ai
terkasih, kumohon jangan membuatku menjadi nelangsa, sungguh aku tak cukup kuat
menanggung segenap beban kala aku merindumu, sungguh aku tak sanggup ketika kau
selalu menjadi bunga tidurku tiap malam.
Ingatkah
saat kau paksa aku untuk melepasmu?
Diammu,
bisumu kau jadikan simbol bahwa kau segera ingin kulupakan, kau paksa aku
berhenti saat aku sedang sayang-sayangnya. Sungguh kejam.
Kau
tidak tahu betapa aku berjuang keras untuk kita lalu kau buatku kembali
berjuang keras untuk melupa akanmu dan kenangan kita. Ya, maksudku untuk
aku dan kau. Karena kini tak ada lagi alasan untuk kita diantara kita.
Ai
terkasih, kumohon ijinkan aku melontarkan tanya.
“Adakah aku di rencana masa depanmu
kelak?”
“Adakah sesal dalam dirimu saat kau
meninggalkanku?”
“Seburuk apa perangaiku hingga kau
menjatuhkan jenuhmu yang tak singkat ini padaku?”.
Raibmu
yang tetiba sungguh membuatku hancur, hatiku benar lebam bak ditusuk beribu
jarum tajam. Saat kau kujadikan marifat terindah dalam hidupku, kuagungkan kau
bagai nebula yang diciptakan oleh indahnya Supernova, bagaimana aku yang selalu
setia menunggumu padahal fakta pahit telah bersemayam dalam pikirku bahwa kau
tak akan datang untuk kita, ialah aku yang keberkian kali kau buat lebam
hatinya namun masih memaklumi perbuatanmu, ialah aku yang berandai-andai bahwa
kelak engkaulah terkasih yang kelak mengganti ratapanku dengan gelak tawa,
merubah nelangsaku menjadi keteguhan hati.
Ai
terkasih, adakah kau temukan perempuan yang dengan ikhlas mendoakan
kebahagiaanmu?
Menyebut
namamu di dalam rapal doanya sembari menangisimu disepertiga malam?
Adakah
ai terkasih? Taukah bahwa kau jadi bahan diskusi paling asyiknya dengan Tuhan-nya
ynag maha baik.
Lalu
apa balasanmu? Kau siksa batinku dengan pertanyaan-pertanyaan, kau diami aku,
kau hindari aku, kau suguhkan aku beribu penderitaan, ai terkasih sungguh sakit
kau balas aku dengan hinaan atas nama cinta.
Kau
sabdakan bahwa aku yang tak mengertimu,
Aku
yang paling egois diantara kita.
Kau
ucap bahwa cintamu tak lagi sama bersamaan saat ku seduh segelas kopi. pahit,
sama-sama pahit.
Terkasih,
kau tahu apa yang lebih pahit dari itu? ya, kau kirimi aku pesan singkat tertulis
bahwa kau menginginkan agar kiranya aku menghargai perempuanmu, siapa perempuan
yang kau maksud harus aku hargai? Bahwa faktanya kala itu hanya aku perempuan
yang resmi bersamamu. Terungkap kini kau telah menduaiku, kau dustakan segala
ucap dan janji yang kau Ikrarkan atas nama Tuhan.
Kau
tahu akibat dari ulahmu?
Setelah
kau tinggalkan aku, kuputuskan untuk menutup hati, kembali.
Bukan
karena tidak ada yang lebih baik darimu, ini karena rasanya hatiku telah mati
suri.
Kutolak
habis semua lelaki yang mencoba menggantikan posisimu, ini karena aku tak bisa
membohongi hatiku sendiri bahwa kau masih aku sayangi dengan tulus. Walau kau
tak lagi, biarlah hanya aku seorang yang menanggungnya, biarlah rasa ini
kugantungkan padanya sang pencipta ataukah menunggu waktu rasa ini terhempas
dari lubukku.
Tapi,
sekali lagi harus kau tahu bahwa aku berani bersumpah atas nama cinta bahwa
takkan ada kau dapat seorang perempuan yang mencintaimu tulus lebih dari
cintaku padamu.
-Mutiahptr-
Komentar
Posting Komentar