Ku-Mu.
Pagi,
siang, sore, malam, matahari terbit dan terbenam, bintang gemintang, rembulan
semuanya amat menyenangkan sama seperti kali pertama dua insan saling menatap
penuh harap namun sedikit tersipu malu, tepat saat belum ada sekat antara aku
dan kau. Senja yang menenangkan saat ucapan sayang masih selalu kau ucap padaku,
saat kecupan manis dari bibirmu untuk keningku dan pelukan hangat yang membuatku
tenang karena ada kau di sisiku. Bagaimana kita saling menggenggam, kupeluk kau
erat saat laju motormu membuatku takut kemudian kau eratkan pelukkanku ketika
aku hendak tertidur di atas motor. Bahwa benar aku merindukanmu dan kenangan kita.
Aku tidak pernah berpikir arti perpisahan bisa se-menyakitkan yang kini tengah
kualami.
Tak
henti-hentinya aku mengaksarakan lukaku mungkin membuatmu bosan jika membaca
tiap kalimatnya atau bahkan menyumpah-nyumpahiku tapi bukankah ini yang
dilakukan seorang penyair mengukir tiap lukanya dalam sebuah aksara?
Tuan
yang kini menjadi toko utama dalam tiap tulisan-tulisan sakitku, yang bersih
keras ingin kuhilangkan dalam ruang yang disebut hati. betapa kucintai dengan
tulus sosokmu, dikau yang membuatku percaya akan cinta dan kebahagiaan dan dikau
pula yang membuatku tidak percaya pada percayaku sendiri.
Tuan? Perempuan ini yang kau lepaskan
tanpa pamit, yang kau tinggal saat sedang cinta-cintanya padamu sampai saat ini
bodohnya dia masih mencintaimu dan masih menunggu datangmu.
“tidak adakah dia di rencana masa
depanmu?”
Tuan?
Bagaimana kabarmu? Baikkah harimu? Sehatkah dirimu? Bahagiakah engkau? Aku ingin
semua pertanyaanku seputarmu kau jawab baik.
Sebab perempuan ini tak pernah alpa merapal namamu disepertiga malam, berharap
Tuhan-ku yang maha baik ini berbaik hati mengabulkan segenap doaku untuk
kebahagiaanmu.
“tuan, pernahkah sedikit saja aku
terlintas dibenakmu perihal kabarku, kesehatanku, juga mengkhawatirkan hatiku
yang kau tinggal?”
Jikalau
iya, sudahlah tuan tak usah khawatir. Paling tidak dari sini aku bisa
memastikan bahwa kau tengah berbahagia dengan dia yang kini kau sebut pulang-mu.
Jika kau berkenang
dan terlampau malu menyapaku. Cukup kau rapalkan namaku dalam doamu seperti aku
merapalmu dalam doaku yang berselimut air mata permohonan.
-Mutiahptr-
Komentar
Posting Komentar