Untukmu yang sedang Berjuang
"Untukmu, Jadilah seperti kaktus, berdiri sendiri, tangguh melindungi dirinya, sabar menanti tumbuhnya bunga walau akhir daur hidupnya, tetap percaya pada mimpimu dan jangan pernah menyerah karna tidak ada yang tahu akhir dari hidupmu, kamu kuat."
-Mutiahptr-
Halo
semuanya.. Lagi apa? Baikkah harinya? Saya harap kali ini kalian berucap direlung
hati selalu baik mutiah. ya walaupun sebenarnya realita yang kini kamu alami nggak
sejalan dengan ekspektasi kamu, oh iya yang masih sendiri gimana? yang ditinggalin
pas lagi sayang-sayangnya gimana? Sudah ikhlas belum liat dia sama yang lain? Hatinya
sudah sembuh belum? Iya saya paham, itu sulit. Gapapa kok pelan-pelan kalian
pasti bisa ngelaluin itu kecewa, rasa sakit, bahagia, kesedihan, dikhianati, rasa
jenuh semua itu manusiawi tanpanya hidup nggak akan ada berwarna dan tanpanya pula
saya dan kamu nggak akan mendapat pelajaran dalam hidup.
Untukmu yang sedang berjuang ngelaluin
itu kamu tidak sendiri sayang, saya paham rasanya dikhianati, dibohongi, bahkan
ditinggal seseorang yang padanya saya gantungkan begitu banyak harap, seseorang
yang menjanjikan saya begitu banyak mimpi-mimpi yang nantinya saya dan seseorang
itu wujudkan bersama, seseorang yang begitu saya cintai dengan tulus tanpa meminta
apapun, seseorang yang nggak pernah saya harap mengecewakan saya justru dialah
yang memberi saya kekecewaan, rasa sakit, pengkhianatan yang teramat dalam dan
karenanya ketika kamu membaca ini berarti kamu telah membaca sebagian kecil
dari dunia saya yang sebenarnya nggak seindah kelihatannya. Benar adanya saya hanya
mencoba untuk baik-baik saja menyembunyikan rasa sakit itu, saya berusaha sangat
keras menghapusnya dari pikiran dan hati saya, saya hanya sedang berlari dan tidak
ingin dikejar.
Saya bahkan nggak pernah menyalahkan
dia atas semua ini, atas berakhirnya hubungan (kita), saya juga nggak pernah
menyalahkan perempuan yang sedang bersamanya.. karena saya memahaminya saya
nggak bisa memaksakan perasaan seseorang terhadap saya, memaksa dia selalu
berada di sisi saya dalam suka dan duka iya itu terlalu egois saya nggak bisa
melawan kehendak Tuhan saya memahami bahwa hidup itu tentang banyak orang
melibatkan banyak hal dan bagaimana Tuhan. Benar adanya saya kecewa dengannya kenapa
harus dengan cara seperti itu dia merusak hubungan kita dan kepercayaan yang
saya titip padanya terlebih itu semua saya hanya menyalahkan diri saya sendiri
(pernah), kecewa dengan diri saya benteng pertahanan yang saya bangun bertahun-tahun
untuk menikmati kesendirian saya dan hanya fokus dengan mimpi-mimpi saya begitu
cepat dirobohkan hanya dengan buaian kata-kata manis dan janji masa depan yang
bahkan saya sendiripun bingung kenapa saya bisa dengan cepatnya jatuh padahal
ada begitu banyak sosok yang mencoba menembus benteng itu dan dialah yang
berhasil merubah prinsip saya, iya saya lemah. Saya berhasil ditikam oleh
pengharapan saya sendiri. Benar adanya saya menjatuh-cintainya dalam, tulus dan
akan selalu seperti itu.
Kisah kita yang berjalan hampir
setahun lamanya kini telah lenyap, dia pergi dan meninggalkan janji masa depan,
meninggalkan kisah kita. Saya pernah terpuruk, saya pernah sempat mengutuk diri
atas semua kejadian ini, saya hanya menyalahkan diri saya, lantas siapa yang akan
saya salahkan selain diri saya? Dia? Perempuan itu? Tidak. Saya memahami. Ini hanya
kesalahan saya telah ceroboh menaruh hati, harusnya mungkin saya membenci mereka
tapi saya paham kita hanyalah pemain dan Tuhan lah Sutradaranya beginilah
skenario ceritanya. Oh semesta, menulis ini pun rasanya masih perih jantung
saya masih tertikam. Berbulan-bulan saya mencoba bangkit, berlari dengan hanya
membawa separuh hati saya dengan sisa tenaga saya, kenapa hanya separuh? Karena
separuhnya lagi telah dia bawa bersama kepergiannya. Saya berusaha mengubur
kenangan itu dalam-dalam namun tidak dia dan kenangan kita tetap bersemayam
dalam hati saya. Orang bilang waktu akan menyembuhkan luka itu, tapi apa iya? Ketika
saya sendiri memilih untuk menyimpannya rapat-rapat dan masih tetap menguncinya.
Apa saya sanggup menghapusnya? Pada kenyataannya saya selalu merindukannya
tanpa jeda, oh semesta. Saya pun tidak ingin situasi seperti ini. Saya tidak
cukup kuat menahan ini semua. Saya benar-benar hancur kala itu, saya rapuh. Ingin
rasanya saya mati saja mungkin terdengar lebay tapi begitulah adanya kala itu. Saya
bingung harus seperti apa.
Kawan saya pernah berkata “sudahlah, kamu
harus memulai dengan yang baru itulah cara paling ampuh sekarang!” memulai dengan yang baru? Yap tidak bisa saya
pungkiri itulah jalan paling mujarab ketika saya ingin melupakannya. Namun saya
menolak, kamu tahu sebabnya? Karena saya tidak ingin menikam hati yang lain,
ketika saya belum bisa melupakan seseorang lantas saya harus menjadikan
seseorang lain sebagai media saya dalam melupakan. Tidak akan, saya tidak sekejam
itu dan tidak akan pernah melibatkan orang lain dalam urusan ini. Walau pada
kenyataannya setelah kepergian dia ada begitu banyak sosok yang bahkan sukarela
mencoba menggantikan dan menembus benteng itu lagi, saya menolaknya dengan
berbagai alasan klasik.
Kamu
tahu? Kini saya masih berkawan dengan kesendirian. Dan masih akan seperti itu. Namun
kamu tahu kabar baiknya? Saya menyadari bahwa untuk bangkit kembali bukanlah
seseorang yang bisa mewujudkan hal itu tidak akan ada seseorang pun yang bisa
merubah keadaan saya selain diri saya sendiri, saya mulai memahami diri saya
sedikit-demi sedikit, saya mulai menerima keadaan saya. Kamu tahu jawaban
alasan saya masih sendiri? Karena sebelum saya mencintai yang lain terlebih
dahulu saya harus mampu mencintai diri saya sendiri. Kamu tahu yang menguatkan
saya sejauh ini? Iya, dia tidak lain adalah diri saya sendiri dan mimpi-mimpi
masa depan yang akan saya wujudkan walau tidak dengannya lagi. Saya tidak akan
mengatakan bahwa saya ikhlas, saya hanya mencoba menerima keadaan ini. saya percaya
ada begitu banyak kebahagiaan yang menunggu untuk saya jemput, saya percaya
akan mimpi-mimpi saya dan itulah goals saya untuk saat ini. Selalu tentang
mimpi, dan harapan itu? Kini saya cukup kuat untuk tidak lagi menggantungkan
harap kepada manusia harap itu saya gantungkan kepada-Nya sang pencipta. Agar kiranya
ketika saya tidak bisa mewujudkan harap saya, saya tidak akan menyesali apapun
karena saya yakin dengan-Nya bahwa apa yang menjadi milik saya tidak akan melewatkan
saya.
Teruntuk
diri saya terima kasih karena telah kuat menanggung segenap beban, telah
mencoba bangkit sejauh ini, terima kasih atas penerimaan ini, hei you can live in a word that you design.
Jadilah seperti lembayung begitu indah menghiasi kebahagiaan dirimu dan orang
yang menyayangimu. Lalu teruntuk kamu yang mengalami hal seperti yang saya
alami atau bahkan lebih. untukmu, percayalah pada dirimu cukup, menyalahkan
apapun cukup menyalahkan dirimu inilah hidup dan akan seperti ini, ujian akan
selalu datang mewarnai kehidupan dan untuk lulus ujian itu bukan orang lain
yang mampu menolongmu, hanya dirimu dan hanya dirimu, jadilah kuat, penerimaan
sangatlah penting, jika kamu dapat menerima maka kamu juga dapat melepaskan
jadilah kuat atas mimpi-mimpimu, Dan teruntuk seseorang yang pernah begitu saya
cintai yang pernah menggoreskan luka mendalam tapi juga memberi saya
kebahagiaan yang nggak bisa saya lukis, saya nggak pernah menyalahkan kamu atas
kisah kita yang kandas dan nggak berjalan sesuai rencana kita, saya juga nggak pernah
menyesali pernah menjalani hubungan yang bagi saya berjalan terbilang lama ini (karna
sebelumnya saya nggak pernah menjalani hubungan selama ini dengan seseorang). Saya
hanya kecewa berkali-kali saya lontarkan saya hanya kecewa kenapa harus dengan
cara seperti itu, sekurang-kurangnya jangan meninggalkan sesuatu tanpa
penjelasan, saya nggak pernah memaksa kamu untuk tetap berada di sisi saya, cobalah
untuk jujur akan dirimu dan perasaanmu, saya paham akan kejenuhanmu akan saya
dan kisah kita jadikan ini yang terakhir. Terima kasih karna pernah ada memberi
saya senyuman pula rasa sakit yang kini membuat saya semakin kuat. dari saya
yang sampai sekarang masih mendoakan kebahagiaanmu karena ketika kamu bahagia
yang kemudian memancarkan tawa dari dua belah bibirmu, saya pun ikut bahagia
meski bukan saya penyebab dari tawa itu. Dan untuk yang terakhir percayalah
apapun itu saya akan selalu disini, mendukungmu.
-Mutiahptr-
Komentar
Posting Komentar