Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Mula

       Mengenalmu adalah definisi bahagia paling nyata yang dengan lancangnya berkelana di jiwaku, aku bersyukur karena kau memilihku dalam setiap tegurmu. Menikmati tiap senyum dari lengkungan bibirmu, manis. Hingga tak henti-hentinya aku mengaksarakan tiap kali pertemuan itu beradu dan menunggu-nunggu tiap kali jeda telah memaksa kita untuk bersabar. Belum lama setelah matamu melirikku lantas tersipu malu, lancang sekali aku menduga bahwa kau telah jatuh cinta padaku. Maaf aku banyak berharap.      Namun menyenangkan, setelah berpandang itu kau langsung menyergapku dengan pelukan, menyatakannya dengan lancang.   “Hei, aku menyukaimu. Sungguh.”      Mengenang kembali kita bermula dari chat basa-basi, tempat memuntahkan segala pahit getir kehidupan hingga kaulah yang kabarnya paling aku nanti-nanti. Seperti penyihir kau mengetahui isi dari dugaanku. Tidak berlangsung lama aku mengiyakan keterikatan kita. Jadilah aku ...

Sebuah akhir.

  Akhirnya tidak ada lagi yang perlu dikenang antar kita, tidak perlu lagi ada alasan klasik yang memenangi pembenaran, akhirnya jarak bukan lagi penghalang untuk kita me-mediakan rasa rindu karena memang kita sudah tidak saling memiliki, akhirnya kita telah sepakat sepenuhnya berpisah walau itu kau dulu yang menyepakati seorang diri; sesuai inginmu aku iya-kan saja semuanya. Adalah yang kuharap kemarin kita akan sama-sama berjalan searah walau tak saling bergandengan tapi kelak bertemu dititik paling ujung namun tidak lagi sayang, aku memahaminya sekarang kita kini sudah berlalu. Menunggumu diujung memang begitu melelahkan. Kini kita bebas untuk tidak lagi saling mengekang dan menabur curiga satu sama lain, tidak ada lagi pelukan hangat pun kecupan manis, kita resmi mengepak sayap lalu terbang seorang diri. Dulu kupikir mencintaimu memang tidak pernah sederhana namun melepaskamu jauh lebih rumit dari yang kuduga, melelahkan bukan mencintai dan melepaskanmu diwaktu yang bersama...

Aku tahu, kamu tahu segalanya.

  “Aku tahu betul kamu pasti tahu perihal aku yang tidak akan pernah siap melihat punggungmu dan pergi meninggalkanku.” “Aku tahu betul kamu pasti tahu perihal aku yang tidak akan sanggup melihatmu menetap di rumah lain, selain-ku.” “Aku tahu betul kamu pasti tahu aku akan sulit beradaptasi dengan orang baru setelah pergimu.” Aku tahu kamu mengetahui segalanya, tapi, kamu tetap pada pendirianmu yakni meninggalkanku. Mengetahui, bagaimana kamu dengan beribu alasan klasik yang mengamini keputusanmu; berpisah. Yang aku tidak habis pikir hanya pada teganya kamu dulu sekali dengan buaian manis memintaku menjadi rumah untukmu lalu kamu beranjak pergi tanpa pamit pada rumahmu. “Apa aku salah dengan ini? Tidak kan?” Kasihan sekali, aku ini. Tiap waktu tanpa alpa menunggumu disudut jendela sembari membayangkan kamu akan berbalik-pulang, menyebut namamu dalam kalbu sedang kau tengah berbahagia dengan dia-mu, memotretmu dalam pikiran sedang kau tengah memotret dia dalam hati juga ...