Sebuah akhir.

 

Akhirnya tidak ada lagi yang perlu dikenang antar kita, tidak perlu lagi ada alasan klasik yang memenangi pembenaran, akhirnya jarak bukan lagi penghalang untuk kita me-mediakan rasa rindu karena memang kita sudah tidak saling memiliki, akhirnya kita telah sepakat sepenuhnya berpisah walau itu kau dulu yang menyepakati seorang diri; sesuai inginmu aku iya-kan saja semuanya.

Adalah yang kuharap kemarin kita akan sama-sama berjalan searah walau tak saling bergandengan tapi kelak bertemu dititik paling ujung namun tidak lagi sayang, aku memahaminya sekarang kita kini sudah berlalu. Menunggumu diujung memang begitu melelahkan. Kini kita bebas untuk tidak lagi saling mengekang dan menabur curiga satu sama lain, tidak ada lagi pelukan hangat pun kecupan manis, kita resmi mengepak sayap lalu terbang seorang diri.

Dulu kupikir mencintaimu memang tidak pernah sederhana namun melepaskamu jauh lebih rumit dari yang kuduga, melelahkan bukan mencintai dan melepaskanmu diwaktu yang bersamaan?

Aku kuatkan diriku untuk tidak menangis dan merayakan kisah kita yang telah kutamatkan seorang diri. Aku cukup lama berkelana mencari jati diriku yang telah hilang sepeninggalmu, kini aku menemukannya kembali dan sebuah kebenaran bahwa sekuat apapun aku bertahan kamu memilih untuk lepas, bahwa percuma mendambakan sebuah penkhianatan.

Aku hanya ingin menjauh saja, seperti kali pertama kita saling bertatap tanpa ada rasa yang menggorogoti, bertemu dengan hanya sedikit sapa.

Kita sama-sama menuju pendewasaan, tak perlu lagi ada drama-drama kebencian, tapi tak perlu juga selalu menyapa, hanya kita sebelum sebuah rasa menggerogoti yakni dua orang asing.

Tak perlu lagi ada kemarahan mengatasnamakan sebuah kebohongan, aku memahami sekarang sayang betul-betul memahaminya namun yang kusesalkan hanya pada sebuah kepercayaan yang tidak akan lagi kau dapat dariku.

Aku mensyukuri-nya dilepaskan denganmu bukan tanpa alasan; rasa sakit, pengkhianatan, kesendirian yang masih membelenggu sungguh mengajarkanku arti pentingnya mencintai diri sendiri bahwa ketika kita jatuh kita akan bangkit kembali, hanya diri sendirilah penyelamatnya.

Jadi, bisakah kita mulai dari awal? Maksudku kita dulu yang dua orang asing dengan hanya sedikit sapa.

Tanpamu aku sudah lengkap jadi tidak perlu kembali hanya untuk mengulang berkali-kali kalimat “Sampai Jumpa.” Karena kini aku telah sepakat untuk mengizinkan hati lain menghuni hatiku.



   /pu.an\

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku, kepada diriku.

Kau Raib dan Aku Nelangsa

Mula