Aku tahu, kamu tahu segalanya.

 

“Aku tahu betul kamu pasti tahu perihal aku yang tidak akan pernah siap melihat punggungmu dan pergi meninggalkanku.”

“Aku tahu betul kamu pasti tahu perihal aku yang tidak akan sanggup melihatmu menetap di rumah lain, selain-ku.”

“Aku tahu betul kamu pasti tahu aku akan sulit beradaptasi dengan orang baru setelah pergimu.”

Aku tahu kamu mengetahui segalanya, tapi, kamu tetap pada pendirianmu yakni meninggalkanku. Mengetahui, bagaimana kamu dengan beribu alasan klasik yang mengamini keputusanmu; berpisah. Yang aku tidak habis pikir hanya pada teganya kamu dulu sekali dengan buaian manis memintaku menjadi rumah untukmu lalu kamu beranjak pergi tanpa pamit pada rumahmu.

“Apa aku salah dengan ini? Tidak kan?”

Kasihan sekali, aku ini.

Tiap waktu tanpa alpa menunggumu disudut jendela sembari membayangkan kamu akan berbalik-pulang, menyebut namamu dalam kalbu sedang kau tengah berbahagia dengan dia-mu, memotretmu dalam pikiran sedang kau tengah memotret dia dalam hati juga pikiranmu.

Duduk termenung disudut cafe favoritku sembari menikmati secangkir kopi aku memandang etalase-etalase kaca, diluar sedang hujan percikannya menghasilkan embun pada etalase, entah apa yang aku pikirkan hanya aku ingin menulis diatasnya seperti rasanya aku ingin dimiliki oleh seseorang yang menghargai keberadaaanku, mencintai kekuranganku tulus, mengamini segala masa depan indah yang akan kita cipta, mengusir setiap peluh yang menghampiriku, dan selalu berada disisiku.

Aku memang masih mencintaimu teramat, tapi aku juga tidak pernah mengatakan akan terus mencintaimu. Aku meyakini akan ada saatnya rasa cinta yang kumiliki ini akan berlalu. Duniaku tidak akan selamanya beputar hanya mengelilingimu. Sayang, ketahuilah nanti ketika kamu menyadarinya dan berbalik menemuiku barangkali aku sudah tidak disudut jendela itu lagi, barangkali aku sudah keluar menghirup udara setelah terperangkap sangat lama dalam jebakan perasaaan dan barangkali aku nantinya sudah menemui pemilikku yang baru.

Belum saatnya. Tunggu saja, sayang.


/puan\

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku, kepada diriku.

Kau Raib dan Aku Nelangsa

Mula