“NYAMAN, BENARKAH?
Kalau
kata kang Wira, “Sebelum hadir kata kenyamanan, pastikan itu cinta, bukan Cuma penasaran
belaka.”
Benarkah
bahwa aku kini telah menjatuhkan nyamanku yang baru?
Benarkah
bahwa dia kini telah menjadi pulangku yang baru?
Benarkah
bahwa dia yang mampu mengusir gundaku?
Benarkah
bahwa dia kini resmi menjadi tokoh dari tulisan-tulisanku yang baru?
Benarkah?
Benarkah?
Benarkah
bahwa aku telah menjatuh-cintainya atau ini hanya rasa penasaran belaka?
Benar
tuan, semua ini berawal dari diskusi-diskusi kecil kita, candamu yang kadang
sedikit konyol namun mampu membuatku tersenyum sepanjang hari, keluhmu tiap
hari namun mampu membuatku merasa aku seperti rumah bagimu. Aku tahu benar,
jatuh cinta bukanlah hal biasa lagi bagiku.. namun setelah patah hatiku kemarin
rasanya aku seperti mati rasa, berani sekali ku tolak laki-laki yang mencoba
mendekatiku dan menjadikanku rumah tempatnya pulang sedikitpun tak ada gubrisku
kepada mereka. Namun kini setelah hadirmu kembali kutinggikan harap-harap semu
itu, kembali ku terjatuh pada kisah klasik itu, kembali aku menjatuh-cintai
seorang lelaki. Maaf, aku paham ini sedikit keterlaluan menjatuh-cintai lelaki
sepertimu. Perihal kamu tuan bagai rembulan yang tak bisa aku gapai. Kali ini
aku hanya berani memandang potret wajahmu, membaca kembali diskusi kecil namun
tak begitu sering antar kita, sembari tersenyum manis. Kali ini aku hanya
berani mencintaimu dalam diam saja sebab aku takut mengutarakan rasaku ini,
terlampau takut akan jawaban yang tak sesuai harapku; kamu tidak memiliki rasa
yang sama juga yang paling menjadi ketakutanku; aku yang nantinya mencintaimu
amat dalam justru menjadi boomerang sakit hatiku dikemudian hari tepatnya aku
takut mencintaimu lebih dari cintaku pada yang menciptakanku.
/Mutiahptr\
Komentar
Posting Komentar