Aku; Kacau.


Pertengahan bulan Juli, hari ini hujan turun deras di perantauanku bersamaan dengan tetesan air mata yang kini murni berderai membasahi pipiku. Suasana hatiku kacau, benar-benar sedang kacau.
Hari ini aku teramat marah pada dia dan hari ini aku teramat sedih pada kepergian tanpa pertemuan.
Untuk kemarahanku yang begitu membungkam seribu tanya perihal,

“Mengapa orang-orang sangat menggampangkan sesuatu? Apakah segala sesuatu bisa di beli dengan uang? dan tanpa memikirkan perasaan atau bahkan luka yang diterima si pemilik? Apakah tidak ada rasa bersalah setelah orang-orang merenggut sesuatu itu dengan pembenaran orang-orang mengganti dengan yang lebih baru dan elok?"

Memikirkan tanya itu, hatiku benar tertusuk menyaksikan beberapa dari mereka sangat memaklumi hal tersebut. Seolah-olah rasa iba dalam dirinya memang benar-benar tidak ada. Alih-alih berucap dia mengganti sesuatu dengan yang baru tanpa memikirkan perasaan si pemilik mendengar ucapnya.
“Hei pemuda, kau pikir sesuatu yang baru mudah meluluhkan hanya perihal sampul yang lebih elok kah? TIDAK pemuda, tidak semua orang seperti itu. Ini perihal tanggungjawab yang telah kau ikrarkan dan dengan mudah kau lepas, sungguh aku kasihan padamu dan pada seseorang yang begitu mempercayaimu, perangai-mu yang buruk sangat mudah tertebak hanya dengan ucapan sepele namun sangat rendah.”

Aku tidak habis pikir akan ke-egoisan yang masih bersemayam dalam dirinya, baru kemarin aku mencintai-nya, aku tuluskan cintaku yang tanpa syarat. Aku menunggunya tanpa pasti. Dan mendengar pembenarannya beberapa menit lalu. SUMPAH aku merasa teramat membencinya saat ini. Ucap yang mungkin sepele baginya telah membuatku benar tertusuk, benar-benar sangat marah, benar-benar sangat membencinya. Pantas saja dia mudah bergonta-ganti sudah terbaca karakternya. Egois, Palsu, Munafik. Pemuda sialan itu, benar-benar membuatku marah.

Hei pemuda, semoga kelak kau tersadar bahwa sebanyak apapun uang yang kau punya, ada beberapa sesuatu yang tidak bisa kau beli dengan uang-mu bahkan dengan sebongkah berlian. Ialah; sesuatu yang punya nilai bagi si pemilik, ialah sesuatu yang penuh arti bahkan kenangan. Sadarlah ai pemuda aku memohon dengan sangat, dewasalah sedikit dalam bersikap.”

Dan belum habis pertanyaanku yang terbungkam lara, beberapa menit setelah kemarahan yang teramat dalam itu. Kembali aku dibuat mengangah,

Bagaimana mungkin sebuah kepergian tanpa pertemuan?”

Murni sudah tetesan air mata ku jatuh bagai aliran laminer, aku menangis benar-benar menangis. Oh semesta dia sosok yang teramat sangat ingin ku-temui, berbagai gubahan-ku terinspirasi dari sajaknya, dalam kesunyian-ku selalu menemukannya, dalam kesendirian-ku selalu ada dia dan gubahannya, dibalik tebalnya dinding pemisah antara aku tuk beliau yang teramat ingin kutemui bayangannya selalu menghampiriku dengan mesra bersamaan sajak-sajak romantisnya, bahwa benar beliau ku sapa dia Eyang selalu mampu membuatku hidup diantara puisi-puisinya dan membuatku tenggelam pada makna cinta yang begitu mendalam.
Eyang; Sapardi Djoko Damono bahwa nyata kini kau telah menyelami perjalanan kedua-mu. Selamat jalan Kecintaanku, Selamat Jalan Inspirasiku.
Benar nyatanya eyang dalam potongan bait sajakmu; yang fana adalah waktu, kita abadi.”
Doaku-ku mendalam moga-moga di-ke-abadian kita dapat dipertemukan kembali masih sebagai aku yang selalu mengagumi-mu.


/Mutiahptr\




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku, kepada diriku.

Kau Raib dan Aku Nelangsa

Mula