Tentangmu masih saja pahit
Kini
telah berlalu puluhan purnama sejak kau memutuskan pergi tanpa berucap pamit
padaku pun tak terhitung guguran dedaunan dan rintik hujan yang menemani
hari-hari pahitku tanpamu. Namun setelah kepergianmu tuan, aku masih belum
paham akan rasa yang masih menikam jantungku setiap harinya yang membuatku
terus berlari menjauhi segala bayang-akanmu. Adalah kau lelaki, awal dari semua
cerita pahitku yang tak kutahu kapan akhirnya.
Tuan
setelah hari-hari panjang yang kulewati tanpamu masih saja aku merindumu tanpa
jeda, bibirku mungkin berucap membencimu teramat, namun percayalah dari lubuk
yang paling dalam aku masih menunggumu di penghujung, masih saja aku menjaga
ruang yang kau sebut milikmi dulu; ialah hatiku yang kini kau tinggal.
Bahwa
benar mencintaimu bukan hanya sekedar lamunan yang telah menjadi kebiasaanku
setahun terakhir jika rembulan telah menjemput sang malam. Saat kau putuskan memilihnya
didepan mataku tak pun ada sesal, yang aku sesalkan hanya pada ketidak-adanya kesempatan
untukku membahagiakanmu walau sedetik.
Waktu terus berlalu, rintik hujan pun berkamuflase menjadi rintihan air mata yang murni berderai, saat sesak yang tak dapat lagi ku bendung kala aku mengingatmu.
“Aku menderita tuan, sungguh menderita
mencintaimu.”
Aku
mencintaimu begitu terengah, kau satu-satunya matahari milikku yang kuharap
menjadi sinar penuntunku kelak .kala aku dalam gelap-gelapnya. Padamu aku
jatuhkan rasa amat dalamnya dan kesalahanku adalah tak pernah mencintai selain
kamu.
Setelah
kau mengetahui kebenarannya,
Bagaimana
mungkin, tuan?
Bagaimana
mungkin kau memilih orang lain?
-Mutiahptr-
Komentar
Posting Komentar