-TUAN-
TIDAK
ADA LAGI,
(KITA).
Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu
anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang
akan menemukan kita.
Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan
menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu
itu pernah terjadi.
-Tere Liye
Mulanya,
aku ucap untuk keberkian kali Terima kasih pada Tuan yang melumpuhkan segala
pengharapan, menyirami luka dengan bumbu kekecewaan pula beribunya kebahagiaan.
Ini indah, sungguh indah akupun tak menyesal menjalani, aku mencintaimu
tepatnya. aku paham cinta seperti itu, terkadang : datang pada hati menawar
segelintir kenyamanan dan tetibanya pergi tanpa sebab yang terjelaskan.
Meski
aku ini berulang kali berpandang dengan rasa takut akan kehilanganmu, namun kau
teramat buta akan ketakutanku. Meski acap kali aku menunggu datangmu, kabarmu.
Sama sekali, kau tak paham akan kekhawatiranku akanmu.
“Tuan?..”
“Bersedia kah kau ku beritahu
sedikit rahasia?”
“Tuan, Aku selalu menunggumu,
selambat apapun kau datang aku masih tetap menunggu, jelasnya aku
tahu, kau tak akan datang dan akan masih tetap menunggumu.”
Salahkah
aku? Bodohkah aku? Aku harus apa? Aku benar-benar dibingungkan akan kita? Aku
yang terluka akan diammu, apa yang aku tahu jika kau membisu? Akan kau yang
dulu memupuk kebahagiaan lantas pergi tanpa kutahu sebabnya, akan kau yang
tetiba menghindariku. Tidak bisakah aku menjadi rumahmu, lagi? Bagaimana aku
yang menunggumu pulang. Bagaimana dibenakku terlintas pengharapan yang mungkin
terdengar konyol bagimu. Berharap kita punya lebih banyak waktu mengulang
banyak hal, memperbaiki yang retak, mewujudkan kembali mimpi masa depan. Jika
saja kita memiliki banyak waktu bersama, mungkinkah jenuhmu tak setega ini?
Jika saja aku menjatuh-cintaimu tepat dan sedikit lebih lama? Mungkinkah
jenuhmu lebih sebentar dari dugaan? ..
Jika
menghilang adalah caramu beranjak, takpun ada hak memaksamu tuk tinggal, jika
tak berkabar adalah caramu melangkah, takpun hak tuk menahan. AKU RAPUH . bukan aku menahanmu pula memberatkan
kepergian, pulanya menyulitkan dan menambah bebanmu tuk melepasku secara
perlahan. Tak pernah terlintas dipikirku dengan maksud sekejam itu. “Tuan..?” seseorang
mungkin tidak ingin mendengar pamitmu, tapi sekurangnya jangan tinggalkan dia
dengan ganjalan-ganjalan.
Masih ingatkah?
Pada tatap
pertama kau melihatku?, kali pertama kau memberanikan langkah kakimu tuk
menghampiriku, kali pertama bibirmu mengucap kata-ke-kata. Aku yang tak
mengenalmu pulanya hanya berani menatapmu jauh dengan rasa terkagum. Kau
bangunkan lamunanku. Kembali, kau bangunkan dan kembalinya kau lenyap. Aku
menampar wajahku yang sedang berkhayal padahal nyata, nampak raut wajah yang
menahan perih. Sama perih-nya saat terakhir kali kau berucap bahwa cintamu tak
lagi sama. Kau pergi dengan sejuta pertanyaan yang membendungku.
“Tuan, tau kah?”
Sejauh ini
jantungku masih berdegup kencang ketika mengingat kembali pertemuan singkat
tapi tak begitu sering, tentang bagaimana kita saling menggenggam, memelukmu
dikala rindu mencekam, membaca kembali obrolan kita dulu-dulu, membuka kembali
pengabadian kenangan dalam sebuat potret bersamamu? lalunya mengingat
mimpi-mimpi kita. Haruskah aku lenyapkan saja mereka tuan? Menghapusnya dari
benak juga ponselku? Itukah maumu? ..
”Tuan, Aku mencintaimu,
teramat sangat.”
Tapi pada
kenyataannya aku ditikam oleh rasa cinta yang kumiliki, ditikam oleh
pengharapan yang tak berkesudahn ini. Tak seperti itu harapku. Kau renggut
semua kecocokan antara kita. Apa yang ku bisa tuan? Ketika pada akhirnya kau
memilih untuk menyudahi.
”Tuan
tidak berarti lagi kah aku?”
“Bersamamu aku teramat bahagia. Hingga aku
lupa, kau bisa meninggalkanku kapan saja.”
Tuan.. tau
kah, kali ini aku mengukirmu dalam sebuah tulisan tanpa ada rintihan
air mata, bukankah kau tak suka rintihan itu? ”Jangan menangis, aku
tak suka. Kau masih jadi yang tercantik.” Ucapmu. Benar katamu aku tak
lagi menangis,
“untukmu..”
-putri1969
Komentar
Posting Komentar